Ada AirTag di Bagasi, Turis Ketakutan dan Batal Liburan di Bali

Ada AirTag di Bagasi, Turis Ketakutan dan Batal Liburan di Bali

 22,287 total views,  3 views today

Ketika AirTag Mengganggu Liburan di Bali: Turis Australia Kembali ke Tanah Air

Dalam sebuah peristiwa yang mengejutkan, dua turis wanita Australia yang sedang menikmati liburan indah di Bali akhirnya memilih untuk segera pulang setelah menemukan sesuatu yang tak terduga di dalam bagasi mereka – sebuah AirTag, alat pelacak buatan Apple yang telah menjadi perbincangan hangat. Apa yang seharusnya menjadi perjalanan yang mengesankan di Pulau Dewata berubah menjadi pengalaman menakutkan bagi Emily Sinclair dan sahabatnya, Jane

baca juga: Geger Jasad Alien Dipamerkan di Parlemen Meksiko, Berujung Hujan Kritik

AirTag sebenarnya adalah alat yang dirancang untuk membantu orang menemukan barang yang hilang, tetapi juga memiliki potensi untuk digunakan dalam hal yang jauh lebih menyeramkan – memantau individu tanpa sepengetahuan mereka. Hal ini bukanlah kejadian yang biasa bagi dua pelancong berpengalaman seperti Emily dan Jane. Mereka sangat berhati-hati dalam merencanakan perjalanan mereka, dan tas-tas mereka selalu mereka awasi dengan cermat. Mereka bahkan tidak memiliki produk Apple dan telah memeriksa barang-barang mereka sebelum berangkat. Namun, AirTag misterius ini menghantui mereka dengan suara aneh yang datang dari salah satu bagasi mereka.

Emily dan Jane dengan cepat merespons temuan yang mengejutkan ini. Mereka tidak ingin mengambil risiko apapun, jadi mereka segera mengeluarkan baterai dari AirTag dan memeriksa perangkat tersebut. Mereka menemukan bahwa AirTag tersebut dibuat di Indonesia, yang menguatkan dugaan bahwa perangkat ini mungkin dimasukkan ke dalam tas Jane saat mereka tiba di bandara. Mereka merasa sangat terganggu dan tidak aman oleh temuan ini, dan keputusan untuk mengakhiri rencana liburan mereka di Bali menjadi langkah yang mereka anggap paling bijak.

Awalnya, mereka merencanakan untuk menginap di desa kecil bernama Amed selama delapan malam, sebuah tempat yang menjanjikan ketenangan dan kedamaian. Namun, karena ketakutan yang tidak bisa mereka hilangkan, mereka akhirnya memutuskan untuk menuju Kuta, sebuah tempat yang lebih ramai dan didiami oleh lebih banyak penduduk, meskipun itu berarti tiga jam perjalanan ekstra. Mereka tidak tahu bagaimana dan mengapa AirTag tersebut bisa berada di dalam tas Jane, tetapi kehadirannya mengisyaratkan bahwa seseorang dengan sengaja meletakkannya di sana dengan niatan yang tidak jelas. Rasa takut mereka semakin membesar, dan satu-satunya keinginan yang mereka miliki adalah pulang secepat mungkin.

Sementara itu, Apple telah menciptakan beberapa fitur keamanan dalam AirTag-nya untuk melindungi pemilik dari potensi penguntitan. Salah satunya adalah suara bip berkala yang akan terdengar jika AirTag terpisah dari pemiliknya untuk jangka waktu tertentu. Kejadian ini telah dialami oleh pasangan ini selama perjalanan mereka, dan meskipun mereka tidak memiliki perangkat Apple, suara tersebut tetap mengganggu mereka.

Namun, kasus Emily dan Jane hanyalah salah satu dari banyak insiden penguntitan yang melibatkan penggunaan AirTag. Banyak kasus lain telah dilaporkan di mana seseorang mencoba melacak individu atau objek tertentu dengan menggunakan AirTag, mengundang pertanyaan serius tentang privasi dan keamanan. Sebagai teknologi semakin canggih, penting bagi kita semua untuk menjaga privasi dan keamanan pribadi kita dengan hati-hati. Kesadaran akan potensi ancaman seperti ini adalah langkah pertama dalam melindungi diri kita sendiri di era digital yang semakin kompleks ini.

Sumber artikel : Teknokrat

Penulis: Al Fajri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *