JAKARTA (Sketsa.co) — Beredar isu kemungkinan Presiden Joko Widodo bergabung ke Partai Golkar setelah menyelesaikan jabatan Presiden RI  pada 20 Oktober mendatang. Namun sejauh ini Jokowi tidak membenarkan maupun membantah soal isu dirinya bakal masuk Golkar tersebut.

“Saya setiap hari masuk istana,” ujar Jokowi menanggapi pertanyaan pers di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur pada Rabu (28/2).

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto merespons baik soal peluang Presiden Jokowi masuk ke partai beringin itu.  “Baik, bagus-bagus saja,” kata Airlangga saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (26/2).

Menurut dia , Jokowi adalah milik semua partai karena mantan Gubernur DKI Jakarta itu merupakan salah satu tokoh nasional.

Seperti diketahui, meskipun hubungan Jokowi dengan PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri dinilai tak harmonis, namun mantan Walikota Surakarta (Solo) itu hingga kini masih berstatus kader partai banteng, karena secara resmi belum menyatakan keluar atau dikeluarkan.

Renggangnya hubungan Jokowi-Megawati mencuat setelah keduanya berbeda pilihan dukungan capres, terlebih ketika putra sulung Jokowi, yakni Gibran Rakabuming Raka, menjadi cawapres pendamping capres Prabowo Subianto. Gibran hingga kini secara formal juga masih berstatus anggota PDIP.

PSI dan Golkar

Sebelumnya disebut-sebut Jokowi akan bergabung ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang diketuai Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi sendiri. Namun, kemungkinan itu dikabarkan mengecil jika PSI kembali tak lolos ambang batas parlemen 4%, alias tidak masuk ke DPR RI.

Pilihan bergabung ke Golkar menjadi lebih realistis mengingat sejak beberapa waktu terakhir Jokowi memang tampak lebih nyaman bergaul dan berhubungan dengan para elite Golkar, yang notabene juga menjadi menteri di kabinetnya, antara lain Ketum Golkar Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian), Ketua Dewan Penasihat Golkar Luhut Binsar Pandjaitan (Menko Maritim dan Investasi), dan kader Golkar Bahlil Lahadalia (Menteri Investasi/Kepala BPKM).

Baca juga:

Pertanyaannya, jika benar pada akhirnya masuk Golkar, posisi apa yang akan diberikan ke Jokowi? Akankah Jokowi menjadi kader biasa, atau bakal mendapat salah satu jabatan penting? Atau bahkan, mungkinkah Jokowi akan didukung untuk menjadi Ketum Golkar menggantikan Airlangga melalui mekanisme Munaslub Golkar?

Yang pasti, jika Jokowi benar “mengakuisisi’ Golkar dengan menjabat posisi ketua umum, hal itu akan tetap menempatkannya sebagai salah satu elite politik penting di Tanah Air. Jokowi akan tetap berada dalam orbit elite politik nasional. Di titik ini, tentu saja, dia bisa mem-back-up secara nyata pemerintahan Prabowo-Gibran jika pada akhirnya paslon nomor urut 02 ini ditetapkan sebagai capres-cawapres terpilih dan dilantik untuk memimpin RI periode 2024-2029.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *