JAKARTA (Sketsa.co) — Dalam pergulatan perpolitikan elite nasional beberapa waktu terakhir, rasanya tak ada hal yang lebih menarik untuk dicermati selain apa yang akan dilakukan Presiden Jokowi pasca lengser dari kursi kepresidenan pada 20 Oktober 2024.

Benarkah Jokowi akan pensiun (dari politik) dan kembali ke Kota Solo, Jawa Tengah,  kota kelahiran sekaligus daerah di mana dia merintis karir politik dengan diawali terpilih sebagai walikota melalui Pilkada 2005?

Atau, Jokowi akan tetap berkiprah di perpolitikan nasional dengan menjadi pentolan partai politik, entah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) atau Golkar atau partai lain, dan akan lebih banyak hadir di Daerah Khusus Jakarta (DKJ) atau Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur?

Atau, mungkinkah Jokowi didapuk sebagai ketua ‘barisan nasional’–seperti diusulkan Ketua Dewan Pembina PSI Jeffrie Geovanie—dengan memimpin koalisi partai-partai pendukung dan pengusung duet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, yang kemungkinan akan dilantik menjadi presiden-wapres periode 2024-2029?

Yang pasti, hingga kini belum terlihat tanda-tanda meyakinkan apakah Jokowi akan benar-benar ‘pensiun’ dari hiruk-pikuk perpolitikan nasional dan kembali ke Solo untuk  balik menekuni profesi lamanya sebagai pengusaha mebel.

Spekulasi

Berbagai spekulasi terus berkembang dan bermunculan, termasuk isu mutakhir yang menyebutkan bahwa Jokowi berpeluang besar untuk masuk ke Partai Golkar dan  bertarung memperebutkan posisi ketua umum partai beringin tersebut pada tahun ini, entah lewat munas luar biasa (munaslub) atau Munas Golkar Desember 2024.

Satu hal, sampai detik ini, Jokowi masih berstatus kader PDI Perjuangan, meski sudah menjadi pengetahuan umum bahwa relasinya dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri memburuk sejak berbeda sikap dalam dukungan capres-cawapres untuk Pilpres 2024.

Sejauh ini, Jokowi belum mengembalikan kartu tanda anggota (KTA) ke DPP PDIP. Sebaliknya, PDIP pun belum secara resmi mencabut status keanggotaan Jokowi. Boleh dikatakan status Jokowi di PDIP menggantung. Secara de jure masih anggota PDIP, tapi de facto tampak tak ‘diakui’ atau ‘mengakui’ lagi sebagai kader partai.

Baca juga:

Pertanyaan berikutnya, apakah setelah lengser dari kursi kepresidenan, Jokowi masih akan sedigdaya sebelumnya secara politik? Atau, sedetik setelah presiden baru dilantik, mulai saat itu juga pamor politik Jokowi bakal perlahan pudar?

Lalu, jika Jokowi bukan menjadi pimpinan partai politik besar seperti PDIP, Golkar atau Gerindra, apakah dia masih akan diperhitungkan secara serius dalam pergulatan elite politik nasional?

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *