Harga beras di Indonesia tetap stabil meskipun harga beberapa komoditas lain seperti cabai, telur, dan daging ayam mengalami kenaikan. Menurut data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga beras kualitas bawah I stagnan di Rp 14.750 per kg, dan harga beras kualitas bawah II juga tetap di Rp 14.550 per kg.
Sementara itu, Perum Bulog melaporkan realisasi penyerapan beras dalam negeri mencapai 3,5 juta ton hingga 24 Juli 2026. Angka tersebut setara dengan 87 persen dari target pengadaan nasional tahun ini yang ditetapkan sebesar 4 juta ton. Dengan realisasi tersebut, Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani meyakini target serapan 4 juta ton beras bisa tercapai sebelum akhir 2026.
Stabilitas harga beras ini tentunya menjadi kabar baik bagi masyarakat, terutama di tengah kenaikan harga beberapa komoditas lain. Selain itu, penyerapan beras oleh Bulog juga membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat cadangan pangan nasional.
Di sisi lain, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dilarang menggunakan barang-barang bersubsidi dalam melaksanakan program makan bergizi gratis (MBG), seperti minyak goreng Minyakita dan gas LPG 3 kilogram. Jika ditemukan hal tersebut, Sudaryono tak segan memberikan teguran hingga ancaman tutup dapur.
Kesimpulan dari informasi di atas adalah bahwa harga beras tetap stabil dan penyerapan beras oleh Bulog membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat cadangan pangan nasional. Selain itu, perlu dilakukan pengawasan ketat terhadap penggunaan barang-barang bersubsidi dalam program MBG.





