Bingung Mulut Atau Koding Lebih Penting Buat System Analyst Pemula
Pertanyaan ini sering banget nongkrol di kepala para calon System Analyst. Kamu yang jago ngoding merasa pede sama skill teknis, tapi denger bahwa System Analyst harus jago “bicara”. Atau kamu yang punya kemampuan komunikasi bagus, tapi khawatir karena lihat job description-nya nyebut-nyebut soal pemahaman teknis.
Jadi, mana yang lebih penting? Jurus “mulut” atau jago “koding”?
Jawaban singkatnya adalah KEDUANYA PENTING. Seperti pedang samurai yang butuh dua sisi mata yang sama tajamnya, System Analyst butuh kedua skill ini dalam porsi berbeda.
baca juga: Mau Jadi IT Developer Handal Ini Rahasia Biar Dilirik HRD
1. Memahami Pekerjaan System Analyst Sebenarnya
System Analyst BUKAN programmer yang ngetik kode seharian. System Analyst juga BUKAN sales yang meyakinkan client.
System Analyst adalah PENERJEMAH dan JEMBATAN.
Bayangkan proyek software seperti pembangunan jembatan. Di satu sisi ada Dunia Bisnis (user, client) yang bicara bahasa kebutuhan dan proses. Di sisi lain ada Dunia Teknis (programmer, developer) yang bicara bahasa algoritma dan database.
System Analyst harus paham kebutuhan bisnis (“Butuh jembatan untuk 1000 mobil per jam”), lalu menerjemahkannya menjadi spesifikasi teknis (“Butuh beton kekuatan X, lebar Y”) untuk developer.
Untuk memahami kebutuhan bisnis, butuh “mulut” (komunikasi). Untuk menerjemahkan ke spesifikasi teknis, butuh pemahaman “koding” (teknis).
2. Sisi “Mulut” – Kemampuan Komunikasi Bukan Cuma Bicara
“Jago mulut” bagi System Analyst punya makna lebih luas:
- Kemampuan Mendengarkan Aktif: Menangkap yang tidak diucapkan user. Saat user bilang “sistemnya lemot”, gali lebih dalam: “Lemot di bagian mana? Kapan kejadiannya?”
- Kemampuan Bertanya Tepat: Seperti detektif, gali akar masalah dengan pertanyaan “Mengapa?” berlapis
- Kemampuan Menyederhanakan Kompleks: Jelaskan konsep “API Integration” ke user gaptek dengan analogi sederhana
- Kemampuan Negosiasi: Menengahi konflik antara keinginan user dan keterbatasan teknis
- Kemampuan Menulis Dokumen: Spesifikasi kebutuhan harus ditulis runtut dan jelas
Risiko jika “mulut” tumpul:
- Sistem meleset dari kebutuhan user
- Banyak salah paham dan revisi
- Konflik tim bisnis vs teknis
- Dianggap tidak paham kebutuhan user
3. Sisi “Koding” – Pemahaman Teknis Bukan Harus Jago Ngetik Kode
“Pemahaman koding” untuk System Analyst BUKAN berarti jadi programmer terhebat.
Yang dimaksud pemahaman koding:
- Pemahaman Logika Pemrograman: Konsep variabel, conditional, looping, fungsi
- Pemahaman Arsitektur Teknologi: Perbedaan monolitik vs microservices, kapan butuh API
- Kemampuan Membaca Kode Dasar: Tidak perlu menulis, tapi bisa memahami alur logika
- Skill SQL Kuat: WAJIB untuk mengambil dan analisis data
- Pemahaman Keterbatasan Teknologi: Tahu mana yang feasible dan tidak
Risiko jika pemahaman “koding” lemah:
- Tidak dihormati tim developer
- Buat janji tidak mungkin diimplementasikan
- Desain sistem tidak efisien
- Mudah “dibohongi” tim teknis
4. Untuk Pemula, Fokus Mana Dulu?
Jawabannya tergantung latar belakang:
- Background TEKNIS (ex-Programmer):
Fokus asah “mulut” dan soft skill. Sudah punya modal teknis kuat. Belajar berempati dengan user non-teknis, mendengarkan, dan komunikasi mudah. - Background BISNIS/NON-TEKNIS:
Fokus bangun pemahaman teknis dasar. Belajar logika pemrograman, dasar database (SQL), memahami cara aplikasi bekerja high-level.
Kuncinya JANGAN BERHENTI BELAJAR. Dunia teknologi berkembang cepat. System Analyst yang baik adalah pembelajar seumur hidup.
Kesimpulan
Jadi mana lebih penting? KEDUANYA adalah dua sisi koin sama.
- Pemahaman teknis tanpa komunikasi baik = analyst angkuh, tidak paham user, sistem salah
- Komunikasi baik tanpa pemahaman teknis = analyst tidak kredibel, spesifikasi tidak bisa diimplementasikan
Goalnya jadi System Analyst Seimbang. Bisa “njdown” dengan user memahami masalah bisnis, lalu “njdown” dengan developer merancang solusi teknis elegan.
Penulis : Tanjali Mulia Nafisa