Di tengah kontroversi kartu merah AS, FIFA era Infantino raup pendapatan besar. Kontroversi tersebut muncul setelah kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, dibatalkan setelah Presiden AS, Donald Trump, menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino. Keputusan ini memicu kemarahan para politisi di Eropa dan mempertanyakan integritas FIFA.
Sorotan tersebut muncul di tengah kontroversi Piala Dunia 2026, di mana jalur Argentina ke semifinal dinilai lebih mudah karena aturan baru FIFA. Dalam turnamen ini, FIFA menargetkan pendapatan sebesar 13 miliar dollar AS atau sekitar Rp 235,25 triliun sepanjang siklus 2023-2026. Sumber pemasukan terbesar FIFA berasal dari hak siar televisi, yang menyumbang sekitar 68 persen dari total pendapatan.
Di tengah kontroversi kartu merah AS, FIFA era Infantino raup pendapatan besar, namun pengelolaan keuangan FIFA terus menjadi sorotan. Presiden FIFA, Gianni Infantino, berulang kali menegaskan bahwa setiap dolar yang diperoleh FIFA akan dikembalikan untuk pengembangan sepak bola. Namun, di balik klaim tersebut, besarnya pendapatan, cadangan kas, hingga berbagai kontroversi membuat pengelolaan keuangan FIFA terus menjadi sorotan.
Parlemen Eropa mendesak Komite Etik FIFA untuk menyelidiki Gianni Infantino atas pelanggaran etika organisasi. Desakan ini muncul setelah Infantino yang mengaku dihubungi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tiba-tiba menangguhkan sanksi kartu merah pemain AS, Folarin Balogun, dalam Piala Dunia 2026. Keputusan kontroversial ini memicu reaksi keras dari para politisi di Eropa.
Di tengah kontroversi kartu merah AS, FIFA era Infantino raup pendapatan besar, tetapi integritas turnamen ini dipertanyakan. Kontroversi kartu merah AS, aturan baru FIFA, dan pengelolaan keuangan FIFA menjadi sorotan utama dalam Piala Dunia 2026. Di tengah kontroversi kartu merah AS, FIFA era Infantino raup pendapatan besar, namun kepercayaan masyarakat terhadap FIFA perlu diperbaiki.
Kesimpulan, di tengah kontroversi kartu merah AS, FIFA era Infantino raup pendapatan besar, tetapi integritas turnamen ini dipertanyakan. FIFA perlu memperbaiki pengelolaan keuangan dan memastikan keadilan dalam turnamen untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat.





