PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, salah satu perusahaan baja terbesar di Indonesia, mengalami kejadian kebakaran di area produksi Continuous Tandem Cold Mill (CTCM) di pabrik Cold Rolling Mill (CRM) pada tanggal 19 Juli 2026. Kebakaran ini menyebabkan produksi baja jenis Cold Rolled Coil (CRC) Full Hard terganggu.
Menurut keterangan manajemen Krakatau Steel, kebakaran di area produksi CTCM ini berdampak pada produksi CRC Full Hard, namun pabrik masih dapat memproduksi CRC Soft melalui fasilitas Batch Annealing Furnace (BAF) dan Hot Rolled Pickled and Oiled (HRPO) melalui fasilitas Continuous Pickling Line (CPL).
Untuk menjaga pasokan CRC Full Hard di dalam negeri, Krakatau Steel akan bekerja sama dengan perusahaan produsen CRC domestik. Dengan demikian, pasokan baja CRC nasional tetap terjaga.
Kejadian kebakaran di pabrik Krakatau Steel ini menyebabkan harga saham perusahaan turun 1,65% menjadi Rp 238 per saham pada penutupan perdagangan sesi pertama. Namun, perusahaan tetap optimis bahwa produksi baja akan kembali normal setelah perbaikan selesai.
Sebagai salah satu produsen baja terbesar di Indonesia, Krakatau Steel memiliki peran penting dalam mendukung industri manufaktur dan konstruksi di negara ini. Oleh karena itu, kejadian kebakaran di pabrik ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pelaku industri.
Dalam beberapa tahun terakhir, Krakatau Steel telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas produk. Namun, kejadian kebakaran ini menunjukkan bahwa perusahaan masih perlu melakukan perbaikan dan peningkatan dalam hal keselamatan dan keamanan pabrik.
Dalam menghadapi tantangan ini, Krakatau Steel harus segera melakukan perbaikan dan peningkatan untuk memastikan produksi baja dapat kembali normal. Dengan demikian, perusahaan dapat tetap mendukung industri manufaktur dan konstruksi di Indonesia dan mempertahankan posisinya sebagai salah satu produsen baja terbesar di negara ini.





