Pakar: Iran tak sekadar membalas, tapi ingin singkirkan dominasi pangkalan militer AS di Timteng [titlebase]. Serangan rudal AS ke Iran yang berbatasan dengan Irak dinilai bukan hanya memicu aksi balasan biasa dari Iran, tetapi juga mempercepat upaya Iran mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Dosen International Institute for Islamic Studies, Qasem Muhammadi, menilai Iran kini memiliki agenda yang lebih besar daripada sekadar membalas serangan Washington.
Menurutnya, Iran tengah berupaya membangun tatanan keamanan baru di kawasan dengan mengurangi bahkan menghapus keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat. "Saya kira bahwa Iran sedang mengubah ancaman menjadi peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Qasem dalam wawancara di Kompas TV pada Kamis (23/7/2026). "Perlu dipahami bahwa Iran tidak hanya sekedar mempertahankan diri atau melakukan pembalasan terhadap serangan-serangan Amerika Serikat, tapi Iran sedang menciptakan tatanan baru di Timur Tengah."
Pakar: Iran tak sekadar membalas, tapi ingin singkirkan dominasi pangkalan militer AS di Timteng dengan menjalankan strategi "debasification", yakni menghapus eksistensi pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah. "Debasification artinya penghapusan keberadaan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan ini," ujarnya. Qasem menilai, sejumlah pangkalan Amerika kini sudah mengalami kerusakan berat atau setidaknya tidak lagi dapat beroperasi secara optimal akibat rentetan serangan.
Selain itu, Pakar: Iran tak sekadar membalas, tapi ingin singkirkan dominasi pangkalan militer AS di Timteng juga mulai mengubah pendekatan terhadap Selat Hormuz yang selama puluhan tahun menjadi jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Iran juga mengubah kebijakan atas Selat Hormuz dan menyatakan kesiapan menghadapi perang jangka panjang hingga 10 tahun. Strategi tekanan Iran mencakup ekonomi lewat lonjakan harga energi, korban militer AS, serta dukungan sekutu regional untuk memperbesar biaya politik dan militer Washington.
Pakar: Iran tak sekadar membalas, tapi ingin singkirkan dominasi pangkalan militer AS di Timteng dengan serangan rudal AS ke wilayah Iran yang berbatasan dengan Irak dinilai memicu aksi balasan biasa dari Iran, tetapi juga mempercepat upaya Iran mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Taghiani mengatakan bahwa hukum internasional memberikan Iran hak untuk membalas kepada negara manapun di mana serangan mulanya dilancarkan.
Kesimpulan dari pernyataan Pakar: Iran tak sekadar membalas, tapi ingin singkirkan dominasi pangkalan militer AS di Timteng adalah bahwa Iran sedang menciptakan tatanan baru di Timur Tengah dengan mengurangi bahkan menghapus keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat. Iran juga mulai mengubah pendekatan terhadap Selat Hormuz dan menyatakan kesiapan menghadapi perang jangka panjang hingga 10 tahun.





