Mengenang Nasirun Sebagai Maestro Seni Rupa yang Sederhana dan Humonis, pelukis yang telah meninggalkan jejak di dunia seni rupa Indonesia. Nasirun dikenal melalui lukisan-lukisan yang banyak mengeksplorasi kebudayaan Jawa, dan kini telah berpulang pada usia 60 tahun. Selamat jalan sang maestro, karya dan semangatmu akan selalu menjadi bagian dari perjalanan seni Indonesia.
Dunia seni rupa Indonesia berduka atas berpulangnya Maestro Nasirun, salah satu perupa terkemuka Tanah Air. Seniman yang dikenal dengan karya-karyanya yang mendunia ini menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (1/8) pagi. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, sahabat, dan seluruh komunitas seni.
Ratusan pelayat memadati kompleks Perum Bayeman Permai, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tempat jenazah Nasirun disemayamkan. Karangan bunga berjejer panjang, mengiringi lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema dari rumah duka. Sosok yang selama puluhan tahun dikenal sebagai seniman besar yang rendah hati ini mendapat penghormatan terakhir dari berbagai kalangan.
Temannya, Jumaldi Alfi Chaniago, mengenal dekat sosok ini. Bagi Alfi, Nasirun adalah pribadi yang sangat rendah hati, tidak pernah besar kepala saat dipuji, dan tidak sakit hati ketika dicela. Alfi menggambarkan Nasirun sebagai “orang yang sudah lost stang” atau “orang yang sudah selesai dengan dirinya” dalam dunia tasawuf. Ia tidak terikat pada hal-hal duniawi, bahkan membalas celaan dengan tawa.
Mengenang Nasirun Sebagai Maestro Seni Rupa yang Sederhana dan Humonis, kita dapat melihat bahwa karya-karyanya mendunia, tetapi kehidupannya tetap membumi. Di balik reputasinya yang mendunia, Nasirun dikenal sebagai pribadi yang sederhana, ramah, dan tidak pernah merepotkan orang lain. Ketenarannya tidak pernah mengubah cara ia memandang sesama, menjadikannya tetap membumi meski karyanya melanglang buana.
Mengenang Nasirun Sebagai Maestro Seni Rupa yang Sederhana dan Humonis, kita dapat mengetahui bahwa kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi dunia seni. Namun, karya dan semangatnya akan selalu menjadi bagian dari perjalanan seni Indonesia. Mengenang Nasirun Sebagai Maestro Seni Rupa yang Sederhana dan Humonis, kita dapat mengambil pelajaran dari kesederhanaan dan kerendahan hatinya.





