Beranda / Keuangan / Nilai Tukar Rupiah Mengalami Penguatan, Apa yang Mendorong Pergerakannya?

Nilai Tukar Rupiah Mengalami Penguatan, Apa yang Mendorong Pergerakannya?

Nilai Tukar Rupiah Mengalami Penguatan, Apa yang Mendorong Pergerakannya?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah mengalami penguatan dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan Jumat (10/7), rupiah berada di level Rp18.065 per dolar AS, menguat 0,35 persen dari sebelumnya. Pergerakan ini sejalan dengan mata uang Asia lainnya yang cenderung menguat terhadap dolar AS.

Menurut pengamat mata uang, penguatan rupiah disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal seperti perang antara Amerika Serikat dan Iran serta kenaikan harga minyak dunia menjadi penyebab rupiah menguat. Sementara itu, faktor internal seperti pernyataan International Monetary Fund yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada 2026 juga disambut positif oleh pasar.

Nilai tukar rupiah yang stabil juga didukung oleh kinerja saham big banks yang bergerak variatif. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup melemah 0,40% ke level Rp 6.175 per saham, sementara saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 0,99% ke level Rp 4.080 per saham. Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan bahwa pergerakan saham perbankan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.

Sementara itu, keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen juga menjadi sinyal kuat urgensi kondisi ekonomi nasional. Langkah ini diambil untuk menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 18.171 per dolar AS pada 9 Juni 2026.

Menurut Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Rijadh Djatu Winardi, pilihan BI untuk menaikkan suku bunga merupakan buah simalakama. Menaikkan suku bunga merupakan beban yang terlihat bagi ekonomi domestik, tetapi membiarkan rupiah kehilangan jangkar akan jauh lebih mahal biayanya. Jika depresiasi rupiah tidak terkendali, harga barang impor, pangan, dan energi akan melambung tinggi, yang pada akhirnya memukul kelompok berpendapatan rendah.

Nilai tukar rupiah masih berpotensi volatil di sekitar level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan. Pelemahan tidak selalu berlanjut secara linear, tetapi ruang penguatan juga belum kuat selama arus modal asing belum stabil, suku bunga global masih tinggi, dan pasar masih melihat risiko fiskal domestik.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengusulkan bahwa peran BI saja tidak cukup untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Pemerintah juga perlu ikut untuk menjaga disiplin fiskal, menahan belanja yang tidak produktif, memperkuat ekspor dan devisa hasil ekspor, mengurangi impor energi, dan menjaga kepastian kebijakan.

Nilai tukar rupiah yang stabil sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Oleh karena itu, perlu kerja sama antara pemerintah dan BI untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Kesimpulan, nilai tukar rupiah telah mengalami penguatan dalam beberapa hari terakhir. Faktor eksternal dan internal telah mendorong pergerakan ini. Namun, nilai tukar rupiah masih berpotensi volatil dan memerlukan kerja sama antara pemerintah dan BI untuk menjaga kestabilannya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *